Sunday, April 13, 2008

Merawat Payudara dengan Masker Traditional

Sudahkan anda merawat payudara dengan baik? Tidak bisa dipungkiri setiap wanita mendambakan seluruh anggota badannya nampak sempurna, walaupun hal tersebut bukan segala-galanya. Setelah wajah bagian penting kedua bagi kaum wanita adalah payudara. Bisa dibilang Payudara adalah asset kamu perempuan.

Payudara adalah bagian yang sangan sensitif karena kulit penutup payudara sangat tipis dan lebih lembut juga sangat peka. Apalagi sekitar areal puting susu (aerola) merawatnya pun gampang-gampang susah & diperlukan extra hati-hati dalam merawatnya. Setiap wanita pasti ingin memiliki payudara yang montok, kencang dan terlihat cantik manarik.

Ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam merawat payudara seperti tidak menggunakan sabun kecuali sangat kotor karena kita tidak tahu apakah jenis sabun yang dipakai aman atau tidak, karena beberapa sabun dapat menyebabkan perih atau luka. Kita dapat juga menjaga kelembaban kulit payudara dengan mengoleskan minyak sweet almond setiap dua hari sekali serta melakukan perawatan dengan MASKER PAYUDARA seminggu sekali.

Masker Payudara bermanfaat untuk mengencangkan, menghaluskan kulit, memperindah bentuk payudara, serta memperlambat datangnya keriput.

Berikut beberapa tips langkah perawatan payudara yang baik dan aman:

- berbaringlah rileks dengan posisi terlentang

- bersihkan payudara dengan handuk yang sudah direndam air hangat.
- usapkan dengan lembut kulit pembungkus payudara, lalu keringkan.

- oleskan minyak bulus (jika ada), pijat-pijatlah payudara dengan lembut sekitar 10 hingga 15 menit

- bersihkan kembali dengan handuk basah dan keringkan.

- tutup puting susu dengan kapas basah

- campur masker dengan air mawar (jika ada) kemudian oleskan merata pada payudara dengan kuas. Biarkan 10-15 menit atau sampai mengering

- bilas dengan air hangat hingga bersih, lalu kompreslah dengan es
dan tepuk tepuklah payudara dengan kapas yang telah dibasahi penyegar

Sumber: http://alyssaditya.multiply.com

Saturday, April 5, 2008

Tentang Susu Instan

Tentang Susu Instan

Masyarakat kini sudah jarang mengonsumsi susu dalam bentuk segar (fresh milk). Kebanyakan susu yang diminum adalah susu olahan, seperti susu hasil pasteurisasi, susu bubuk, atau susu kental manis. Dalam bentuk olahan tersebut susu sudah mengalami proses perjalanan yang cukup panjang. Proses pengolahan inilah yang memungkinkan masuknya unsur haram atau yang meragukan ke dalam produk tersebut.

Susu olahan yang beredar di pasaran saat ini kebanyakan adalah susu formula. Artinya susu tersebut sudah mengalami pencampuran dengan bahan-bahan lain sesuai dengan formula yang diinginkan. Maka dikenal adanya susu dengan kalsium tinggi untuk orang tua, susu dengan vitamin tertentu untuk pertumbuhan anak-anak, susu dengan lemak rendah untuk diet, dan seterusnya.

Susu instan ini ditawarkan dengan keunggulan dan kegunaan masing-masing, lengkap dengan rasa dan aroma yang berbeda-beda. Ada yang rasa cokelat, rasa stroberi, vanila, dan sebagainya. Masyarakat sering dibuat bingung oleh banyaknya pilihan yang ditawarkan para produsen susu tersebut. Apalagi dengan iklan dan iming-iming yang katanya bisa membuat anak jadi cerdas, pintar, dan berprestasi.

Promosi susu untuk manula (manusia usia lanjut) beda lagi. Minuman ini digambarkan dapat mencegah tulang keropos, anti penuaan dini, dan menjaga badan tetap segar. Sementara beberapa vitamin tertentu dalam produk tersebut juga digambarkan dapat memacu pertumbuhan anak serta meningkatkan pertumbuhan tulang dan gigi.

Sikap konsumen

Dalam menanggapi gencarnya iklan dan promosi produk susu tersebut, konsumen sebaiknya bersikap proporsional. Bahwa susu memang mengandung zat-zat gizi yang berguna bagi manusia, hal itu sudah menjadi kemakluman bersama.
Satu hal yang perlu diluruskan adalah bahwa segala sesuatu bekerja secara alamiah, tidak instan. Kalau anak Anda minum susu secara teratur, maka badan anak tersebut akan sehat dan kuat. Itupun jika dibarengi dengan makanan lainnya yang seimbang antar karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin dari berbagai sumber. Tetapi jika hanya minum susu saja, maka mustahil hal itu bisa terwujud.

Demikian juga ketika anak Anda sehat dan kuat, maka peluang untuk menjadi anak yang cerdas dan pintar akan terbuka lebar. Tetapi jika tidak dibarenhgi dengan belajar yang rajin dan sungguh-sungguh, mustahil anak akan menjadi pintar. Sementara ini ada pandangan yang kurang tepat, ketika seorang anak kecil sudah diberi susu cukup bahkan berlebih, maka tugas orang tua sudah dianggap selesai. Sehingga mereka mau membeli produk tersebut meskipun harganya luar biasa mahal.

Titik kritis
Di samping menanggapi secara proporsional, susu juga perlu dilihat dari kacamata halal dan haram. Memang pada dasarnya susu sapi atau kambing adalah halal. Hampir tidak ada susu babi yang dipasarkan dan dikonsumsi manusia. Namun selama proses produksi, susu ternyata mengalami berbagai tahapan yang memungkinkan masuknya unsur-unsur ke dalam produk tersebut.

Salah satu proses yang cukup kritis adalah pemisahan antara whey dan keju. Keju merupakan produk olahan susu yang bernilai ekonomi tinggi. Proses pemisahan keju ini melibatkan rennet yang bisa berasal dari lambung anak sapi, babi, atau produk mikrobial. Setelah keju dipisahkan, masih ada produk lain, yaitu whey. Whey ini masih mengandung laktosa tinggi, sehingga sering digunakan dalam produk-produk susu olahan atau susu formula. Meskipun hanya sebagai bahan penolong, namun penggunaan rennet yang tidak halal akan menyebabkan produk yang dihasilkannya tidak halal.

Selain itu untuk produk susu tertentu dengan kegunaan khusus sering ditambahkan bahan-bahan aditif. Misalnya untuk susu bubuk instan, agar mudah larut ke dalam air maka ditambahkan bahan pengemulsi (emulsifier). Bahan pengemulsi ini juga bisa berasal dari bahan yang tidak halal, seperti monogliserida (dari lemak) ataupun lesitin (kadang-kadang juga ditambahkan enzim tertentu). Pada susu formula yang diperuntukkan bagi anak-anak biasanya ditambahkan berbagai vitamin, seperti vitamin A, vitamin B1, B3, B6, B12, vitamin D dan vitamin E. Vitamin-vitamin tersebut biasanya kurang stabil selama proses pengolahan, sehingga perlu dilapisi atau dicoating. Bahan pelapis inilah yang bisa berasal dari gelatin, karagenan, gum atau pati termodifikasi. Gelatin bisa berasal dari tulang sapi atau babi.
Masih mengenai vitamin, sumber bahan tersebut juga perlu dicermati, apakah berasal dari bahan hewani ataukah produk mikrobial. Saat ini vitamin yang diperdagangkan secara internasional memang kebanyakan dari produk mikrobial. Oleh karena itu perlu dikaji, apakah media yang digunakan untuk pertumbuhan mikroba tersebut berasal dari bahan yang halal atau haram.
Pada susu formula juga sering ditambahkan berbagai macam mineral tambahan, seperti kalsium, besi dan mineral esensial lainnya. Sumber mineral ini ada yang berasal dari batu-batuan, ada juga yang diekstrak dari bahan-bahan organik, seperti susu, tanaman dan produk hewani. Misalnya kalsium yang diekstrak dari tulang binatang, baik yang halal maupun haram.
Dari berbagai kemungkinan masuknya unsur haram ke dalam susu olahan tersebut, maka sebaiknya konsumen Muslim lebih berhati-hati. Apalagi dengan maraknya produk-produk impor yang belum semuanya mendapatkan sertifikat halal. Keunggulan dan kelebihan yang ditawarkan produsen melalui iklan yang gencar perlu dibarengi dengan kehati-hatian dalam memilih yang tepat dan benar-benar halal.

Sumber: http://www.republika.co.id/